ILMU SOSIAL DASAR

Oktober 3, 2012 at 3:17 pm Tinggalkan komentar

TAWURAN ANTAR PELAJAR

TEMPO.CO, Jakarta – Tawuran antar-pelajar kembali terjadi di Bulungan, Jakarta Selatan. Kali ini memakan korban. Satu pelajar tewas dan satu lainnya terluka. Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah pada pukul 12.20 WIB. “Setelah bubar, didapati satu korban,” kata Rikwanto,Senin, 24 September2012.
Tawuran terjadi di Bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Korban bernama Alawi, siswa kelas X SMA 6, berdomisili di Larangan, Ciledug Indah. “Dia mendapat luka tusuk di bagian dada.”
Korban kedua, Ramdan Dinis, kelas XII SMA 6, tinggal di Jalan Piso, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia luka di pelipis. Kedua korban dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Sayangnya, nyawa Alawi tak tertolong. “Dia meninggal di rumah sakit tidak lama setelah dibawa kesana,”ujar Rikwanto.
Pemicu tawuran masih belum diketahui. Polisi baru menemukan sebuah celurit di lokasi. “Dugaan kami, itu alat yang digunakan untuk menewaskan korban,” ujarnya.

JAKARTA, KOMPAS.com — Korban pembacokan dalam tawuran pelajar di Bulungan, Jakarta Selatan, ternyata mengenali pelaku pembacokan. Pelaku disebut berinisial FT, siswa SMA Negeri 70Jakarta.
“Yang bacok korban namanya FT, siswa SMA 70,” ungkap El Faouq Hassan (15), siswa kelas X SMAN 6 Jakarta, saat ditemui di RS Muhammadiyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin(24/9/2012)siang.
Dalam peristiwatawuran di Jalan Bulungan di kawasan belakang Blok M Plaza itu, Farouq menderita luka lecet pada kedua bagian jari tangan dan lengan. Rekannya, Didi, menderita luka sabetan di pelipis, sedangkan Alawi tewas akibat sabetan yang mengenai dadanya.
Farouq menuturkan, seusai jam sekolah, ia dan tiga temannya hendak mengambil sepeda motor yang dititipkan di sekitar tempat kejadian. Tiba-tiba muncul puluhan siswa SMA 70 yang langsung menyerbu ke arah mereka dengan membawa senjata tajam.
“Kami langsung lari sambil menghindari sabetan,” kata Farouq.
Namun, akibat serangan tiba-tiba itu, tak urung mereka pun tak bisa lolos sepenuhnya dari serangan lawan. Farouq sempat menangkis serangan salah seorang lawan sehingga lengan danjarinyaterluka.
Sementara itu, rekannya Alawi tak bisa mempertahankan diri sehingga terkena sabetan senjata tajam. Setelah ada korban tewas, para pelajar yang menyerang pun membubarkan diri.
Farouq dan Didi pun bergegas menolong rekannya yang terluka parah di bagian dada. Mereka melarikan Alawi ke RS Fatmawati, tetapi nyawanya tak tertolong.
Sekitar pukul 14.10 WIB, jenazah dengan ditemani orang tua korban dibawa ke RS Fatmawati Cilandak untuk menjalani visum.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TAWURAN

Baru-baru ini kita mulai dipanaskan kembali dengan budaya tawuran di antara para pelajar. Sampai-sampai terjadi korban jiwa. Dan sungguh sadis, tawuran kali ini bukan hanya dengan main tangan, tetapi lebih dari itu menggunakan senjata tajam.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang kami amati sebagai penyebab tawuran, yaitu kami bagi menjadi faktor internal maupun eksternal.

 

 

Faktor Internal

1- Kurangnya didikan agama

Faktor internal yang paling besar adalah kurangnya didikan agama.  Jika pendidikan agama yang diberikan mulai dari rumah sudahlah bagus atau jadi perhatian, tentu anak akan memiliki akhlak yang mulia. Dengan akhlak mulia inilah yang dapat memperbaiki perilaku anak. Ketika ia sudah merasa bahwa Allah selalu mengamatinya setiap saat dan di mana pun itu, pasti ia mendapatkan petunjuk untuk berbuat baik dan bersikap lemah lembut. Inilah keutamaan pendidikan agama. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Jika anak diberikan pendidikan agama yang benar, maka pasti ia akan terbimbing pada akhlak yang mulia. Buah dari akhlak yang mulia adalah akan punya sikap lemah lembut terhadap sesama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu lepas melainkan ia akan menjelekkannya.” (HR. Ahmad 6: 206, sanad shahih).

Jadi tidak semua anak mesti cerdas. Jika cerdas namun tidak memiliki akhlak mulia, maka ia pasti akan jadi anak yang brutal dan nakal, apalagi jika ditambah jauh dari agama.

2- Pengaruh teman

Faktor lainnya yang ini masih masuk faktor internal adalah lingkungan pergaulan yang jelek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana pengaruh lingkungan yang jelek terhadap diri anak,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa). Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”

Biasanya karena pengaruh teman, takut dibilang “cupu loe ga mau ikut tauran, punya nyali ga loe..??” atau “ini kan buat kebaikan sekolah kita, klo loe ga ikut mending ga usah jadi temen gue”. Kalau anak sudah memiliki agama yang bagus ditambah ia tahu bagaimana pergaulan yang buruk mesti dijauhi, ditambah dengan ia tidak mau perhatikan ucapan kawannya atau kakak angkatannya “cupu” atau “culun”. Tentu ia tidak mau terlibat dalam tawuran.

Faktor Eksternal

Selain faktor internal faktor eksternal secara tidak langsung mendorong para pelajar pelajar untuk melakukan aksi tawuran. Di antara faktor tersebut:

1- Kurangnya perhatian orang tua.

Saat ini pendidikan anak sudah diserahkan penuh pada sekolah. Orang tua (ayah dan ibu) hanya sibuk untuk cari nafkah mulai selepas fajar hingga matahari tenggelam. Sehingga kesempatan bertemu dan memperhatikan anak amat sedikit. Jadinya, tempat curhat dan cari perhatian si anak adalah pada teman-temannya. Kalau yang didapat lingkungan yang jelek, akibatnya ia pun akan ikut rusak dan brutal. Beda halnya jika ibunya berdiam di rumah. Tentu dia akan lebih memperhatikan si anak. Inilah mengapa di antara hikmah Allah memerintahkan wanita untuk berdiam di rumah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33). Karena pendidikan dalam rumah lebih dibebankan pada para wanita. Sedangkan pendidikan luar rumah atau pendidikan kemasyarakatan, itulah yang dibebankan pada para pria.

2- Faktor ekonomi

Biasanya para pelaku tawuran adalah golongan pelajar menengah ke bawah. Disebabkan faktor ekonomi mereka yang pas-pasan bahkan cenderung kurang membuat membuat mereka melampiaskan segala ketidakberdayaannya lewat aksi perkelahian. Karena di antara mereka merasa dianggap rendah ekonominya dan akhirnya ikut tawuran agar dapat dianggap jagoan.

Jika anak walau ia berekonomi menengah ke bawah menyadari bahwa tidak perlu iri pada orang yang berekonomi tinggi karena seseorang bisa mulia di sisi Allah adalah dengan takwa. Pemahaman seperti ini tentu saja bisa didapat jika si anak mendapatkan pendidikan agama yang baik.

Jadi, yang terpenting dari ini semua adalah tarbiyah (pendidikan) agama dan pembinaan iman, ini faktor penting yang membuat anak tercegah dari tawuran, di samping pula perhatian orang tua.

Semoga kita sebagai orang tua bisa menyadari hal ini. Wallahu waliyyut taufiq.

 

 

Solusinya, apa  yang dapat dilakukan oleh orang-orang sekitar, seperti guru, orang tua, dan mungkin aparatur negara agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?

1) Media massa harus berperan untuk berhenti menayangkan ulang adegan tawuran, vandalisme, atau berbagai jenis kekerasan. Ingat! Pengulangan merupakan hipnosis secara tidak langsung.

2) Aparat harus betkomitmen menindak tegas dan menentukan langkah antisipatif pencegahan dengan menempatkan aparat di lokasi sekolah.

3) Pemerintah wajib mengeluarkan Undang-undang tegas yg menyatakan bahwa tawuran adalah kriminalitas, sehingga pelaku wajib dihukum tidak dilindungi UU Hukum anak di bawah umur.

4) Orang tua melakukan introspeksi, dilarang melakukan kekerasan di hadapan anak2 dan lebih banyak mengasihi, membelai, dan membangun kedekatan emosional terhadap anak-anak mereka.

5) Komunikasi diperbaiki, karena kekerasan fisik merupakan wujud nyata komunikasi yang buruk.

6) Ulama dan tokoh agama wajib membangun kecerdasan spiritual lingkungannya, sehingga meninggalkan konsep dosa neraka, tetapi menggunakan dialog sebagai upaya neningkatkan kecerdasan spiritual.

 

 

 

 

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

” ILMU SOSIAL DASAR “ DEFINISI PEMUDA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Jun   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: